Senin, 20 April 2009

ARTIKEL PENELITIAN SASTRA

STRUKTURALISME NARATOLOGI TZVETAN TODOROV
DALAM NOVEL PINTU KARYA FIRA BASUKI
(Struktur dan Hubungan antar Struktur)

Oleh Arif Budi Kartiko

PENGANTAR
Suatu karya sastra haruslah memiliki ciri khas tersendiri. Selain itu juga harus ada keselarasan dengan keadaan dalam mayarakat sesuai fenomena yang terjadi untuk menarik perhatian pembaca. Sesuatu yang dipoleskan pengarang pada karyanya akan memberikan sentuhan tertentu pada pembacanya. Seperti dalam novel Pintu karaya Fira Basuki di dalamnya dikuapas tentang dunia spiritual yang menarik. Suatu pengalaman spiritual dan sentuhan kejawen mewarnai novel tersebut. Begitu juga dengan rangkaian peristiwa yang disajikan dengan alur mundur mudah dipahami oleh pembaca. Sehingga novel Pintu karya Fira Basuki tersebut menjadi objek yang menarik dalam penelitian.
Seperti yang telah dikemukakan Todorov bahwa naratologi juga disebut sebagai teori wacana teks naratif. Baik naratologi maupun teori weacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep megenai cerita dan penceritaan1.
2Unsur-unsur pembangun itu terdiri atas tema, fakta cerita dan sarana sastra. Fakta cerita itu sendiri terdiri atas alur, tokoh dan latar, sedangkan sarana sastra biasanya terdiri atas sudut pandang, gaya bahasa dan suasana, simbol-simbol, imaji-imaji dan juga cara pemilihan judul. Di dalam karya sastra fungsi sarana sastra adalah memadukan fakta sastra dengan tema sehingga makna karya sastra itu dapat dipahami dengan jelas.
Struktur yang dimaksud di sini adalah aspek kesastraan(literarinnes) yang terkandung dalam wacana. 3dalam menganalisis harus mempertimbangkan tiga aspek, yaitu: a). aspek sintaksis, meliputi urutan peristiwa secara kronologis dan logis, b). aspek semantik, meliputi tema, tokoh dan latar(setting), c). aspek verbal, meliputi sudut pandang, gaya bahasa dan sebagainya.
______________________________
1Ratna(2007:128) Penelitian Sastra
2Stanton dalam Skripsi Nisak(2006:4)
3Todorov dalam Ratna(2007:128) Penelitian Sastra
LANDASAN TEORI
Strukturalisme yang telah berhasil untuk memasuki hampir seluruh bidang kehidupan manusia, dianggap sebagai salah satu teori modern yang berhasil membawa manusia pada pemahaman secara maksimal. Secara histories, perkembangan strukturalisme terjadi melalui dua tahap, yaitu: formalisme dan strukturalisme dinamik4. Srukturalisme adalah cara berpikir tentang dunia yang menekankan pada persepsi struktur dan deskripsi struktur5. Sebagai sebuah metode strukturalisme berakal pada strukturalisme dalam kajian bahasa yang dikembangkan oleh Saussure dan kajian antropologi yang dikembangkan oleh Levi Strauss6.
Hubungan antar unsur atau bagian-bagiannya tidak dapat dipisahkan, tanpa menggangu totalitas makan. Jadi, yang menjadi dasar analisis strukturalisme bukanlah bagian totalitas tersebut, melainkan jaringan hubungan yang ada di antara bagian-bagian tersebut. Kaitannya bagian yang menyatu menjadi sebuah totalitas sangat dipentingkan7. Teori Todorov menjelaskan perbedaan antara fibula dan sjuzet (struktur dan hubungan antar struktur). Dalam menganalisis tokoh Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi, yaitu: kehendak, komunikasi dan pertisipasi8. Selain itu teori ini juga memiliki dua konsep, pertama manyatakan hubungan unsur yang hadir bersama, secara berdampingan, sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. Kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir, sebagai hubungan makna dan perlambangan9.
Tujuan metode formal ialah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik10. Metode formal tidak bisa dilepaskan dengan teori strukturalisme. novel Pintu karya Fira Basuki memuiliki keterkaitan antar strukturnya. Misalnya pada unsur spiritual yang terkandung dalam novel ini masuk pada aspek semantik memiliki hubungan dengan aspek sintaksis dan aspek verbal.
_____________________________
4Ratna(2007:76) Penelitian Sastra
5Hawkes dalam Najid(2003:42)
6Fokkema dalam Najid(2003)
7Najid(2003:43-44)
8Ratna(2007:136) )Penelitian Sastra
9Todorov dalam Ratna(2007:137)
10Ratna(2007:49-50) Penelitian Sastra

Pendekatan objektif merupakan pendekatan yang terpenting sekaligus memiliki kaitan yang paling erat dengan teori sastramodern, khususnya teori-teori yang menggunakan konsep dasar struktur11.pendekatan objektif memiliki hubungan yang erat dengan teori yang menggunakan konsep dasar struktur. Pendekatan objektif dengan demikian memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur, yang dikenal dengan analisis intrinsik12.

PEMBAHASAN
Aspek Sintaksis
Aspek sintaksis meliputi urutan peristiwa secara kronologis dan logis. Dalam novel Pintu karya Fira Basuki urutan peristiwa atau sering disebut alur, menggunakan alur mundur. Karena pada awal cerita diceritakan suatu keadaan atau peristiwa pernikahan antara tokoh utama “Bowo” dengan istrinya “Aida”, yang juga melibatkan tokoh-tokoh lain dalam peristiwa itu.
Kemudian pada bab berikutnya baru diceritakan tentang bagaimana tentang tokoh utama “Bowo” mulai saat dia dilahirkan. Pada bab ini pengarang memberi nama “Pintu Gerbang” (selamat dating kehidupan), yang menceritakan bagaimana keajaiban yang terjadi saat tokoh uatama “Bowo” dilahirkan. Kemudian pada bab berikutnya pengarang memberi nama “Pintu Batin”, yang menceritakan kisah spiritual Bowo dalam petualangannya. Pada bab ini diceritakan orang-orang termasuk tokoh utama Bowo yang memiliki ilmu kebatinan atau indra keenam. Pada bab yang terakhir pengarang memberi nama “Pintu Hati”, yang menceritakan bagaiman kisah cinta tokoh utama Bowo, bahkan saat hari pernikahan Bowo.
Dari rangkaian cerita di atas novel ini menggunakan alur mundur. Alur yang digunakan dalam novel ini mudah diikuti sehingga pembaca mudah paham dengan isi cerita.

Aspek Semantik
Aspek semantik berkaitan dengan makna dan lambang, meneliti tema, tokoh dan latar.
___________________________
11Ratna(2007:72) Penelitian Sastra
12Ratna(2007:73) Penelitian Sastra
Tema
Novel Pintu karya Fira Basuki mengngkat tema tentang spiritual. Yaitu tentang petualangan seorang lelaki yang memiliki mata ketiga atau indra keenam, yang menyebabkan ia menjadi bagian dari dunia nyata maupun yang kasat mata.
Melalui novel Pintu Fira membukakan dunia spiritual yang kadang tidak masuk akal dan tidak dapat dinalar, di mana perubahan waktu bisa terjadi di alam lain. Dunia leluhur yang dapat ditelusuri lewat jalur omongan “Yang Ti”, ataupun pengalaman pribadi. Kemudian juga kelebihan-kelabihanpada tokoh utama “Bowo” pada dunia spiritual (dunia kasat mata) ditekankan oleh pengarang.

Tokoh
Tokoh utama dalam novel Pintu karya Fira Basuki adalah “Bowo” yang memiliki nama lengkap Djati Suryo Wibowo Subagio. Tokoh Bowo dalam novel ini memiliki sifat atau watak keras kepala, bandel dan suka-suka.
“Atau, mungkinkah ini semua karena ulahku yang memang terlalu ekspresif dan suka-suka” (halaman 12).

Pada waktu memasuki masa puber Bowo selalu berbuat sesuka hati tanpa menghiraukan keadaan. Misalnya pada saat berangkat sekolah mengenakan sepatu roda dan memakai pergelangan lonceng di kakinya. Selain itu Bowo juga bersifat nakal, egois dan tidak pernah merasa jera.
“Aku memang nakal dan egois” (halaman 13)
“apakah aku kapok? Hm…..kapok? mana bisa!” (halaman 21)

Tokoh Bowo digambarkan juga sebagai tokoh yang memliki kelebihan atau berbakat dalam dunia kebatinan. Dengan kelebihan itu Bowo mempunyai pengalaman spiritual dalam petualangannya.
“Inikah yang disebut indra keenam? Aku memang sering melihat jin, roh, hantu….. atau apalah namanya” (halaman 11)

Latar
Novel Pintu karya Fira Basuki mempunyai setting yang berfariasi, artinya tidak hanya satu atau dua tempat saja. Cerita di dalamnya memiliki setting enam tempat yaitu: Jogjakarta, Surabaya, Batu dan Pujon, Malang, Jakarata, Singapura, Chicago – Amerika Serikat.
Tokoh utama “Bowo” selalu berperan di dalam setiap setting tersebut, petualanganya dalam kehidupan nyata maupun kasat mata. Seperti pada setting di Batu – Pujon, Malang. Bowo memasuki dunia kasat mata di mana pada saat itu perubahan waktu bisa berbeda di alam sana.

Aspek Verbal
Aspek Verbal meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang, gaya bahasa dan sebagainya.

Sudut Pandang
Sudut pandang menurut pengarang “Fira Basuki” dalam novelnya yang berjudul Pintu menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu tokoh aku(Bowo). Di dalamnya menceritakan tentang adat Jawa yang dipoleskan dalam cerita. Seperti halnya dalam pernikahan seorang suku Jawa harus menikah juga dengan seorang dari suku Jawa. Begitu juga pada unsur kejawen yang ditonjolkan pengarang. Kejawen selalu identik dengan kebatinan dan spiritual. Oleh karena itu Fira megambil tema spiritual dalam novelnya ini.

Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan Fira dalam novelnya yang ditulis dengan bahasa yang lancar sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Selain itu juga dapat memikat pembaca karena ada berbagai faktor kebetulan yang digunakan untuk merangkai peristiwa-peristiwa itu.
Sentuhan bahasa Jawa juga digunakan dalam novel ini. Istilah-istilah Jawa yang sengaja digunakan Fira Basuki menjadi suatu hal yang menarik bagi pembaca. Misalnya Mamayu hayuning bawono arinya memlihara kalestarian atau keindahan dunia dan isinya. Ati suci jumbuhing kawula Gusti arinya keselarasan hubungan antara sesama dan Tuhan pencipta alam semesta. Selain sentuhan kalimat atau istilah Jawa, dalam novelnya Fira Basuki juga menambahkan bait-bait tembang Jawa atau filsafat Jawa pada cerita di dalamnya.



SIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang dilakukan terhadap novel Pintu karya Fira Basuki dengan menggunakan teori strukturalisme naratologi Tzvetan Todorov dapat ditarik kesimpulan bahwa struktur yang ada memiliki keterkaitan. Struktur yang dimaksud di sini ialah aspek sintaksis, aspek semantik dan aspek verbal. Keterkaitan itu berupa adanya hubungan asper semantik yang meliputi tema, tokoh dan latar dengan aspek verbal yang meliputi sudut pandang dan gaya bahasa. Tema yang diangkat Fira Basuki tentang spiritual berkaitan dengan sudut pandang mengenai budaya/adat Jawa atau kejawen yang selalu identik dengan kebatinan dan spiritual.
Demikian juga dengan tokoh. Ada inspirasi pada pengarang yang berasal dari pengalaman atau dari masyarakat yang menyangkut masalah keturunan Sunan Kalijaga dan juga tokoh-tokoh spiritual keagamaan yang ada di masyarakat. Selain itu juga pada gaya bahasa yang digunakan selalu diselipkan istilah-istilah Jawa untuk menunjukkan dan menekankan unsur kejawen dalam cerita tersebut.




DAFTAR PUSTAKA

Fitriani, Endah. 2005. Protes Sosial dalm Kumpulan Cerpen “Pencakar Langit” Karya NH. Dini. Unesa. (skripsi)
Najid, Muhammad. 2003. Apresiasi Prosa Fiksi. University Press.
Nisak, Choirun. 2006. Struktur Cerita dalam Novel Anak “Hari-Hari Di Kainesthood” Karya Sri Izzati. Unesa. (skripsi)
Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Penelitian Sastra. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.

1 komentar:

krupuk sastra mengatakan...

bagus... kembangkan lagi & lbh kreatif