Senin, 20 April 2009

KULMINASI

Asap yang mengepul tak urung juga hilang dari pandanganku
hitam legam warna itu membuat semua gelap
sementara mataku masih menatap tajam titik kulminasi,
tak ada yang berubah.

Sekejap terlintas kerumunan amarah,
seakan-akan memintaku segera menggali liang lahat,
yang kemudian ku masuki
namun tetap ku tatap tajam titik kulminasi
dalam degup yang tak lagi berirama,
dalam engah yang tak lagi bernada,
dan dalam cinta yang mungkin masih terjaga.

Sby, 28 Feb ‘08


KAU MASIH JALANG

Berjuta tahun yang lalu ku mengenalmu
membawamu menuju alam mimpi
perlahan jarimu menjamah khayalku
memaksaku berteriak, kau jalang!
Lihatlah!
urat nadi yang dulu kau sayat
masih mengucurkan darah segar
sementara kau masih sibuk menghitung
lelaki yang melumat tubuhmu
ku biarkan itu, karena seberkas cinta
masih melekat di hatimu.
Berjuta tahun ku jalani itu
hingga malam ini yang terlalu hening
kau dating dengan air mata yang berlinang.
Namun kau masih jalang

Sby, 7 Nov ‘07


PUDAR MELIHAT INDAHNYA HATI

Kaki ini masih berat untuk melangkah
tak beraturan dan tak kenal arah
di sela gontai sering ku temukan duri
dari sekuntum mawar yang mulai mekar
dan sesekali menusuk mataku
hingga pandangaku pudar untuk melihat pelangi.

Kadang waktu berhenti berputar
lalu mengajakku kembali ke masa lalu
namun apa guna?
langkahku tak mengenal arah dan waktu,
langkahku palsu
di sela gontai masih ku temukan duri
dari mawar yang mulai mekar
dan sesekali menusuk mataku
hingga panndanganku pudar
untuk melihat indahnya hati

Ngawi, 22 Jan ‘08


TERLALU LAMA

Terlalu lama ku menunggu
melati itu mekar di bibirmu,
hingga aromanya mampu menggelitik jantungku
untuk berdetak lebih kencang
saat kau lumat bibirku nanti.
Harapku,
melati itu tak kan layu sebelum mekar

Sby, 5 Mar ‘08


BIRAHI

Semakin larut ku pandang bulan yang suram
spoi angin menyiulkan melodi tentang waktu yang beku
bukan lamunanku dan bukan pula hayalku
yang mengundangmu dating
dan menuyuhkan seonggok nafsu.

Dari mulutmu tercium aroma kenanga
juga seribu rayu kian menggebu.
Hai gadisku…
masihkah kau torehkan sajak-sajak cinta itu?
jika pada akhirnya semua puisi berubah menjadi birahi.

Sby, 2006


KISAH

indah, benar-benar indah
semua terbayang
kita hadir balam kisah
dan air matamu menjadi saksi

maaf! Aku ingkar janji

di satu sisi sebilah belati menggores dadaku
pedih, benar-benar pedih
aku coba menghapus sedih
inilah kehendak alam
dan berakhir di pekat malam

Sby, 2005


CAHAYA BINTANG YANG HILANG,
KARENA TELAH KUBERIKAN KEPADA PACARKU

kurasakan tubuhku hampir mongering
tanpa belaian kasihmu
aku rindu

di suatu malam, kupandang langit bertabur bintang
ku lihat salah satunya bercahaya dengan indah
ku gapai bintang itu dan ku ambil cahayanya
ku petik setangkai rinduku
dan ku bulut dengan cahaya bintang,
hanya untukmu gadisku

keesokan harinya, ku lihat bintang itu tanpa cahaya.
lantas aku berpikir,

Bagimana jika orang-orang tahu bahwa salah satu bintang
telah hilang cahayanya, karena telah ku ambil dan ku berikan
kepada pacarku bersama setangkai rindu

Sby, 2006


TUNTUNANMU

Di mana aku bisa segalanya?
Di mana aku bisa dapatkan segalanya?
Meraba, menyibak cakarawala

Haruskah aku berkalana,
Atau hanya memandang sesuatu
dengan sebelah mata

Wahai sang mahaguru
Aku butuh tuntunanmu

Sby, 2006


MUNGKINKAH KU TERUSKAN MIMPIKU

mungkinkah ku teruskan mimpiku yang tertunda?
jika aku masih tersipu dalam ragu
dan jika waktu masih memaksaku memainkan opera
di panggung tak tentu

bukan sebuah ilusi saat kunang-kunangh itu datang
dan membacakan sejuta mantra,
aku pun tercengang dibuatnya

mungkinkah ku teruskan mimpiku yang tertunda?
jika semua warna pelangi masih saja sama

Sby, 2006


HANYALAH SENYUMMU

hanyalah senyummu
yang terpatri di antara bintang-bintang keagungan
dan, seonggok harapan tentang kita
yang akan ku persembahkan padamu
kini sudah tak berarti
bukankah kau yang menginginkan
kebahagiaan itu?
mungkin gunung berlian
atau pun lautan madu, itu untukmu.
tapi takdir terlanjur mengultimatum kita

hanyalah senyumu yang terpatri
di antara bintang-bintang keagungan

Sby, 2006


SANGGUPKAH KAU JADI SAKSI

Mungkinkah semua mata buta
atau mata hati yang buta,
kasih sayang menjadi pedang
cinta sebagai pengejar harta
Lihatlah !
seorang gadis mencongkel bola mata ibunya
sebagai perhiasan.

Di sudut lain, janda tua bercumbu mesra
dengan anjing peliharaannya,
begitu juga sekawanan manusia rakus
yang berebut bangkai dengan gagak-gagak hitam

Desiran angin menjelma menjadi
lengkingan tangis yang menyayat hati

Sanggupkah kau jadi saksi?
atau sekedar membutakan mata dan hati

Sby, 2005


SENJA

ketika sunyi merajai hati
kak henti-hentinya mereka lantunkan
tembang tanpa nada itu
dan di kala senja semakin buta
kau hanya berkata:
“ini bukan anyir darah sang penyair”

Ngawi, 2006


MEREKA YANG LIAR

Dinginnya angin malam telah membekukan
hati dan jiwa mereka
hingga raga mereka tertanam teramat dalam
di kebisingan kota dan segala hangar-bingarnya.
mereka telah membaur,
menyatu dalam ledakan musik heavy metal
dengan irama yang gila

Telinga-telinga itu tak lagi peka
mendengar teriakan hatinya sendiri
yang tersiksa, merintih, meraung-raung
dalam kegelapan.
mereka telah liar,
dan memburu kebahagiaan yang sesungguhnya
tak lagi terkejar

Sby, 2006


PERKENALAN

angin yang berhembus
gosok punggung rerumputan
bisikkan nama anak Adam-Hawa
masih awam untukku nama itu

sajak sederhana namun bermakna
terukir di secarik kertas tanpa noda
tulisan yang menggantikan lisan
awal dari perkenalan

mata terpejam mengarungi malam
terlukis pula di dinding kusam
sketsa bayangan
tentang sebuah perkenalan


Ngawi – Sby, 2006
TENTANG AKU, KAU DAN ANGKUHMU

dalam bingkai angkuhmu
tertoreh seribu satu sajak
tentang cinta dan kebahagiaan
dalam bingkai angkuhmu
terlukis seribu satu sketsa
tentang keindahan
juga angkuhmu
yang memaksaku
menciptakan seribu satu puisi
tentang kerinduan, kesedihan,
kebencian dan kematian’
tapi bukan untukmu
tahu apa mereka?
tentang dongeng yang tak kunjung usai
atau tenteng seribu satu kisah
yang tak pernah berlanjut

Sby, 2006


DENDAM

susah,
gundah,
resah,
gelisah,
lemah
melangkah
tengadah
dalam pasrah,
terlontarlah
sumpah-serapah
dari hati yang bernanah

Sby, 2006


RINDU 1

Hijau hamparan rumput, bak permadani
angin malu tiupkan nafasnya
dan bersembunyi
rindu yang berpacu dengan masa
terlahir karena cinta.
Cinta terlahir saat perbedaan telah sirna
hayalanku melayang untuk bertanya,
apakah makna hadirMu?
tersipu, terpaku
dalam waktu yang membuat ragu.
Gerimis di tangah malam
semakin membuatku karam
menggigil tanpa kehangatan

Ngawi – Sby, 2006


RINDU 2

Jauh rasa rindu
gapai asa labuhkan dahaga
cinta yang tak bertepi
didekap sepi hati

Tak berdaya hindari galaunya mimpi
terbawa gejolak larut dalam kabut

Dekatlah rindu
cerahi suramku
pasrah hiduo dan matiku
padaMu

Ngawi – Sby, 2006



PESAN UNTUK MANTAN KEKASIHKU

* :mra
Kau terlalu muda,
Kau terlalu lemah
Bukan itu jalanmu

Apakah kau menunggu sekujur tubuhmu
dilumuri ludah mereka?
Atau kau ingin tubuhmu ditelanjangi
dan digerogoti tikus-tikus itu.
Tak perlu kau bersorak-sorai
melihat mulutku berbusa
karena terlalu sering menasehatimu

Bukan itu jalanmu, dik!
Kau terlalu muda
Kau terlalu lemah
Kau terlalu perempuan.

Sby, 2006


LEBUR

pekat malam berkabut asap
bulan pucat pasi berpeluh darah
kamboja kuburan menebar aroma mayat

srigala buas dalam sangkar
meneteskan air mata
menatap sebongkah nisan
bertuliskan namamu

waktu mrapuhkan nisan
tak serapuh srigala itu
melebur terhempas angin
dan hantaman titik hujan

dalam penantian tiada arti
dalam leburnya dan bamgkitmu,
masih termangu bersama nisan
bertulisakan namamu

Ngawi, 2006


CERITA ANAK MANUSIA

Sorot mata muda menggoda
Dari sinilah awal cerita pendek
Cerita menarik di sudut kehidupan
Kehidupan seorang anak manusia
Sekilas tampak bahagia namun penuh siksa

Anak manusia terlena mata muda
Mata jalang, mata setia yang penuh dusta
Anak manusia tenggelam dalam Lumpur
Anak manusia menjerit sakit.
Suara hatinya teriak penuh berontak
Namun tak seorang mendengar
Hanya desiran ngin pilu berhembus
Mengiring anak manusia merangkak
Menuju jalan terang

Ngawi, 2006


KETIKA WAKTU MENITI JALAN TAK BERUJUNG

ketika waktu meniti jalan tak berujung
aku tenggelam dalam lamunan panjang
genggulas deretan cerita nyata
dengan sebongkah harapan
harapan jelang tidur
kesibukan yang mengasikkan,
kadang menyedihkan



persetan dengan rasa itu…
hanyalah jarring-jaring sialan
menjerat dalam kisah nyata.

ketika surya menyibak langit
aku terlepas dari tidur
menyeret seonggok mimpi,
mimpi penuh dusta

Ngawi, 2005


KIDUNG GELISAH

aku bak kelinci liar
tertatih-tatih
anak panah menembus perut kananku.
lepas harapanku
tersandar pada batu rapuh
penuh lumut durjana

hati ini sedang menangis, histeris
air mata mengucur membanjiri jalan angkuh.

sendiri aku memeluk hati
hati hamper mati
matipun tiada yang peduli
tiada yang peduli

Ngawi, 2005


CERITA AKU DAN KAWAN

melangkah dalam gelap
menyusur lorong yang pengap
lewati masa reinkarnasi
memungut untaian caci maki


masih terbayangkah kawan
tentang sebuah kemenangan
merajut waktu
yang tak berhenti berkayal,
mengusung cerita pada jaman purba

masih terbayangkah kawan
sering darah kita terkumpul
untuk patungan,
air mata kita larut
dalam canda tawa

walau kita tersesat,
terdampar di hutan lebat
kita pernah berdendang,
bersorak-sorai
dan teriak dengan lantang

walau kita terjungkal
saat melewati jurang terjal
selamanya kita tak kan berhenti berkayal,
selamanya kita tak kan lelah
mengusung cerita jaman purba

masih terbayangkah kawan
tentang sebuah pematang
yang pernah kita susun
dari tulang-belulang,
tentang sebait tembang
yang pernah kita ciptakan
saat hari beranjak petang

Sby, 2006

1 komentar:

Anonim mengatakan...

oke.......