Senin, 20 April 2009

ARTIKEL PENELITIAN SASTRA

STRUKTURALISME NARATOLOGI TZVETAN TODOROV
DALAM NOVEL PINTU KARYA FIRA BASUKI
(Struktur dan Hubungan antar Struktur)

Oleh Arif Budi Kartiko

PENGANTAR
Suatu karya sastra haruslah memiliki ciri khas tersendiri. Selain itu juga harus ada keselarasan dengan keadaan dalam mayarakat sesuai fenomena yang terjadi untuk menarik perhatian pembaca. Sesuatu yang dipoleskan pengarang pada karyanya akan memberikan sentuhan tertentu pada pembacanya. Seperti dalam novel Pintu karaya Fira Basuki di dalamnya dikuapas tentang dunia spiritual yang menarik. Suatu pengalaman spiritual dan sentuhan kejawen mewarnai novel tersebut. Begitu juga dengan rangkaian peristiwa yang disajikan dengan alur mundur mudah dipahami oleh pembaca. Sehingga novel Pintu karya Fira Basuki tersebut menjadi objek yang menarik dalam penelitian.
Seperti yang telah dikemukakan Todorov bahwa naratologi juga disebut sebagai teori wacana teks naratif. Baik naratologi maupun teori weacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep megenai cerita dan penceritaan1.
2Unsur-unsur pembangun itu terdiri atas tema, fakta cerita dan sarana sastra. Fakta cerita itu sendiri terdiri atas alur, tokoh dan latar, sedangkan sarana sastra biasanya terdiri atas sudut pandang, gaya bahasa dan suasana, simbol-simbol, imaji-imaji dan juga cara pemilihan judul. Di dalam karya sastra fungsi sarana sastra adalah memadukan fakta sastra dengan tema sehingga makna karya sastra itu dapat dipahami dengan jelas.
Struktur yang dimaksud di sini adalah aspek kesastraan(literarinnes) yang terkandung dalam wacana. 3dalam menganalisis harus mempertimbangkan tiga aspek, yaitu: a). aspek sintaksis, meliputi urutan peristiwa secara kronologis dan logis, b). aspek semantik, meliputi tema, tokoh dan latar(setting), c). aspek verbal, meliputi sudut pandang, gaya bahasa dan sebagainya.
______________________________
1Ratna(2007:128) Penelitian Sastra
2Stanton dalam Skripsi Nisak(2006:4)
3Todorov dalam Ratna(2007:128) Penelitian Sastra
LANDASAN TEORI
Strukturalisme yang telah berhasil untuk memasuki hampir seluruh bidang kehidupan manusia, dianggap sebagai salah satu teori modern yang berhasil membawa manusia pada pemahaman secara maksimal. Secara histories, perkembangan strukturalisme terjadi melalui dua tahap, yaitu: formalisme dan strukturalisme dinamik4. Srukturalisme adalah cara berpikir tentang dunia yang menekankan pada persepsi struktur dan deskripsi struktur5. Sebagai sebuah metode strukturalisme berakal pada strukturalisme dalam kajian bahasa yang dikembangkan oleh Saussure dan kajian antropologi yang dikembangkan oleh Levi Strauss6.
Hubungan antar unsur atau bagian-bagiannya tidak dapat dipisahkan, tanpa menggangu totalitas makan. Jadi, yang menjadi dasar analisis strukturalisme bukanlah bagian totalitas tersebut, melainkan jaringan hubungan yang ada di antara bagian-bagian tersebut. Kaitannya bagian yang menyatu menjadi sebuah totalitas sangat dipentingkan7. Teori Todorov menjelaskan perbedaan antara fibula dan sjuzet (struktur dan hubungan antar struktur). Dalam menganalisis tokoh Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi, yaitu: kehendak, komunikasi dan pertisipasi8. Selain itu teori ini juga memiliki dua konsep, pertama manyatakan hubungan unsur yang hadir bersama, secara berdampingan, sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. Kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir, sebagai hubungan makna dan perlambangan9.
Tujuan metode formal ialah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik10. Metode formal tidak bisa dilepaskan dengan teori strukturalisme. novel Pintu karya Fira Basuki memuiliki keterkaitan antar strukturnya. Misalnya pada unsur spiritual yang terkandung dalam novel ini masuk pada aspek semantik memiliki hubungan dengan aspek sintaksis dan aspek verbal.
_____________________________
4Ratna(2007:76) Penelitian Sastra
5Hawkes dalam Najid(2003:42)
6Fokkema dalam Najid(2003)
7Najid(2003:43-44)
8Ratna(2007:136) )Penelitian Sastra
9Todorov dalam Ratna(2007:137)
10Ratna(2007:49-50) Penelitian Sastra

Pendekatan objektif merupakan pendekatan yang terpenting sekaligus memiliki kaitan yang paling erat dengan teori sastramodern, khususnya teori-teori yang menggunakan konsep dasar struktur11.pendekatan objektif memiliki hubungan yang erat dengan teori yang menggunakan konsep dasar struktur. Pendekatan objektif dengan demikian memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur, yang dikenal dengan analisis intrinsik12.

PEMBAHASAN
Aspek Sintaksis
Aspek sintaksis meliputi urutan peristiwa secara kronologis dan logis. Dalam novel Pintu karya Fira Basuki urutan peristiwa atau sering disebut alur, menggunakan alur mundur. Karena pada awal cerita diceritakan suatu keadaan atau peristiwa pernikahan antara tokoh utama “Bowo” dengan istrinya “Aida”, yang juga melibatkan tokoh-tokoh lain dalam peristiwa itu.
Kemudian pada bab berikutnya baru diceritakan tentang bagaimana tentang tokoh utama “Bowo” mulai saat dia dilahirkan. Pada bab ini pengarang memberi nama “Pintu Gerbang” (selamat dating kehidupan), yang menceritakan bagaimana keajaiban yang terjadi saat tokoh uatama “Bowo” dilahirkan. Kemudian pada bab berikutnya pengarang memberi nama “Pintu Batin”, yang menceritakan kisah spiritual Bowo dalam petualangannya. Pada bab ini diceritakan orang-orang termasuk tokoh utama Bowo yang memiliki ilmu kebatinan atau indra keenam. Pada bab yang terakhir pengarang memberi nama “Pintu Hati”, yang menceritakan bagaiman kisah cinta tokoh utama Bowo, bahkan saat hari pernikahan Bowo.
Dari rangkaian cerita di atas novel ini menggunakan alur mundur. Alur yang digunakan dalam novel ini mudah diikuti sehingga pembaca mudah paham dengan isi cerita.

Aspek Semantik
Aspek semantik berkaitan dengan makna dan lambang, meneliti tema, tokoh dan latar.
___________________________
11Ratna(2007:72) Penelitian Sastra
12Ratna(2007:73) Penelitian Sastra
Tema
Novel Pintu karya Fira Basuki mengngkat tema tentang spiritual. Yaitu tentang petualangan seorang lelaki yang memiliki mata ketiga atau indra keenam, yang menyebabkan ia menjadi bagian dari dunia nyata maupun yang kasat mata.
Melalui novel Pintu Fira membukakan dunia spiritual yang kadang tidak masuk akal dan tidak dapat dinalar, di mana perubahan waktu bisa terjadi di alam lain. Dunia leluhur yang dapat ditelusuri lewat jalur omongan “Yang Ti”, ataupun pengalaman pribadi. Kemudian juga kelebihan-kelabihanpada tokoh utama “Bowo” pada dunia spiritual (dunia kasat mata) ditekankan oleh pengarang.

Tokoh
Tokoh utama dalam novel Pintu karya Fira Basuki adalah “Bowo” yang memiliki nama lengkap Djati Suryo Wibowo Subagio. Tokoh Bowo dalam novel ini memiliki sifat atau watak keras kepala, bandel dan suka-suka.
“Atau, mungkinkah ini semua karena ulahku yang memang terlalu ekspresif dan suka-suka” (halaman 12).

Pada waktu memasuki masa puber Bowo selalu berbuat sesuka hati tanpa menghiraukan keadaan. Misalnya pada saat berangkat sekolah mengenakan sepatu roda dan memakai pergelangan lonceng di kakinya. Selain itu Bowo juga bersifat nakal, egois dan tidak pernah merasa jera.
“Aku memang nakal dan egois” (halaman 13)
“apakah aku kapok? Hm…..kapok? mana bisa!” (halaman 21)

Tokoh Bowo digambarkan juga sebagai tokoh yang memliki kelebihan atau berbakat dalam dunia kebatinan. Dengan kelebihan itu Bowo mempunyai pengalaman spiritual dalam petualangannya.
“Inikah yang disebut indra keenam? Aku memang sering melihat jin, roh, hantu….. atau apalah namanya” (halaman 11)

Latar
Novel Pintu karya Fira Basuki mempunyai setting yang berfariasi, artinya tidak hanya satu atau dua tempat saja. Cerita di dalamnya memiliki setting enam tempat yaitu: Jogjakarta, Surabaya, Batu dan Pujon, Malang, Jakarata, Singapura, Chicago – Amerika Serikat.
Tokoh utama “Bowo” selalu berperan di dalam setiap setting tersebut, petualanganya dalam kehidupan nyata maupun kasat mata. Seperti pada setting di Batu – Pujon, Malang. Bowo memasuki dunia kasat mata di mana pada saat itu perubahan waktu bisa berbeda di alam sana.

Aspek Verbal
Aspek Verbal meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang, gaya bahasa dan sebagainya.

Sudut Pandang
Sudut pandang menurut pengarang “Fira Basuki” dalam novelnya yang berjudul Pintu menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu tokoh aku(Bowo). Di dalamnya menceritakan tentang adat Jawa yang dipoleskan dalam cerita. Seperti halnya dalam pernikahan seorang suku Jawa harus menikah juga dengan seorang dari suku Jawa. Begitu juga pada unsur kejawen yang ditonjolkan pengarang. Kejawen selalu identik dengan kebatinan dan spiritual. Oleh karena itu Fira megambil tema spiritual dalam novelnya ini.

Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan Fira dalam novelnya yang ditulis dengan bahasa yang lancar sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Selain itu juga dapat memikat pembaca karena ada berbagai faktor kebetulan yang digunakan untuk merangkai peristiwa-peristiwa itu.
Sentuhan bahasa Jawa juga digunakan dalam novel ini. Istilah-istilah Jawa yang sengaja digunakan Fira Basuki menjadi suatu hal yang menarik bagi pembaca. Misalnya Mamayu hayuning bawono arinya memlihara kalestarian atau keindahan dunia dan isinya. Ati suci jumbuhing kawula Gusti arinya keselarasan hubungan antara sesama dan Tuhan pencipta alam semesta. Selain sentuhan kalimat atau istilah Jawa, dalam novelnya Fira Basuki juga menambahkan bait-bait tembang Jawa atau filsafat Jawa pada cerita di dalamnya.



SIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang dilakukan terhadap novel Pintu karya Fira Basuki dengan menggunakan teori strukturalisme naratologi Tzvetan Todorov dapat ditarik kesimpulan bahwa struktur yang ada memiliki keterkaitan. Struktur yang dimaksud di sini ialah aspek sintaksis, aspek semantik dan aspek verbal. Keterkaitan itu berupa adanya hubungan asper semantik yang meliputi tema, tokoh dan latar dengan aspek verbal yang meliputi sudut pandang dan gaya bahasa. Tema yang diangkat Fira Basuki tentang spiritual berkaitan dengan sudut pandang mengenai budaya/adat Jawa atau kejawen yang selalu identik dengan kebatinan dan spiritual.
Demikian juga dengan tokoh. Ada inspirasi pada pengarang yang berasal dari pengalaman atau dari masyarakat yang menyangkut masalah keturunan Sunan Kalijaga dan juga tokoh-tokoh spiritual keagamaan yang ada di masyarakat. Selain itu juga pada gaya bahasa yang digunakan selalu diselipkan istilah-istilah Jawa untuk menunjukkan dan menekankan unsur kejawen dalam cerita tersebut.




DAFTAR PUSTAKA

Fitriani, Endah. 2005. Protes Sosial dalm Kumpulan Cerpen “Pencakar Langit” Karya NH. Dini. Unesa. (skripsi)
Najid, Muhammad. 2003. Apresiasi Prosa Fiksi. University Press.
Nisak, Choirun. 2006. Struktur Cerita dalam Novel Anak “Hari-Hari Di Kainesthood” Karya Sri Izzati. Unesa. (skripsi)
Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Penelitian Sastra. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.
KULMINASI

Asap yang mengepul tak urung juga hilang dari pandanganku
hitam legam warna itu membuat semua gelap
sementara mataku masih menatap tajam titik kulminasi,
tak ada yang berubah.

Sekejap terlintas kerumunan amarah,
seakan-akan memintaku segera menggali liang lahat,
yang kemudian ku masuki
namun tetap ku tatap tajam titik kulminasi
dalam degup yang tak lagi berirama,
dalam engah yang tak lagi bernada,
dan dalam cinta yang mungkin masih terjaga.

Sby, 28 Feb ‘08


KAU MASIH JALANG

Berjuta tahun yang lalu ku mengenalmu
membawamu menuju alam mimpi
perlahan jarimu menjamah khayalku
memaksaku berteriak, kau jalang!
Lihatlah!
urat nadi yang dulu kau sayat
masih mengucurkan darah segar
sementara kau masih sibuk menghitung
lelaki yang melumat tubuhmu
ku biarkan itu, karena seberkas cinta
masih melekat di hatimu.
Berjuta tahun ku jalani itu
hingga malam ini yang terlalu hening
kau dating dengan air mata yang berlinang.
Namun kau masih jalang

Sby, 7 Nov ‘07


PUDAR MELIHAT INDAHNYA HATI

Kaki ini masih berat untuk melangkah
tak beraturan dan tak kenal arah
di sela gontai sering ku temukan duri
dari sekuntum mawar yang mulai mekar
dan sesekali menusuk mataku
hingga pandangaku pudar untuk melihat pelangi.

Kadang waktu berhenti berputar
lalu mengajakku kembali ke masa lalu
namun apa guna?
langkahku tak mengenal arah dan waktu,
langkahku palsu
di sela gontai masih ku temukan duri
dari mawar yang mulai mekar
dan sesekali menusuk mataku
hingga panndanganku pudar
untuk melihat indahnya hati

Ngawi, 22 Jan ‘08


TERLALU LAMA

Terlalu lama ku menunggu
melati itu mekar di bibirmu,
hingga aromanya mampu menggelitik jantungku
untuk berdetak lebih kencang
saat kau lumat bibirku nanti.
Harapku,
melati itu tak kan layu sebelum mekar

Sby, 5 Mar ‘08


BIRAHI

Semakin larut ku pandang bulan yang suram
spoi angin menyiulkan melodi tentang waktu yang beku
bukan lamunanku dan bukan pula hayalku
yang mengundangmu dating
dan menuyuhkan seonggok nafsu.

Dari mulutmu tercium aroma kenanga
juga seribu rayu kian menggebu.
Hai gadisku…
masihkah kau torehkan sajak-sajak cinta itu?
jika pada akhirnya semua puisi berubah menjadi birahi.

Sby, 2006


KISAH

indah, benar-benar indah
semua terbayang
kita hadir balam kisah
dan air matamu menjadi saksi

maaf! Aku ingkar janji

di satu sisi sebilah belati menggores dadaku
pedih, benar-benar pedih
aku coba menghapus sedih
inilah kehendak alam
dan berakhir di pekat malam

Sby, 2005


CAHAYA BINTANG YANG HILANG,
KARENA TELAH KUBERIKAN KEPADA PACARKU

kurasakan tubuhku hampir mongering
tanpa belaian kasihmu
aku rindu

di suatu malam, kupandang langit bertabur bintang
ku lihat salah satunya bercahaya dengan indah
ku gapai bintang itu dan ku ambil cahayanya
ku petik setangkai rinduku
dan ku bulut dengan cahaya bintang,
hanya untukmu gadisku

keesokan harinya, ku lihat bintang itu tanpa cahaya.
lantas aku berpikir,

Bagimana jika orang-orang tahu bahwa salah satu bintang
telah hilang cahayanya, karena telah ku ambil dan ku berikan
kepada pacarku bersama setangkai rindu

Sby, 2006


TUNTUNANMU

Di mana aku bisa segalanya?
Di mana aku bisa dapatkan segalanya?
Meraba, menyibak cakarawala

Haruskah aku berkalana,
Atau hanya memandang sesuatu
dengan sebelah mata

Wahai sang mahaguru
Aku butuh tuntunanmu

Sby, 2006


MUNGKINKAH KU TERUSKAN MIMPIKU

mungkinkah ku teruskan mimpiku yang tertunda?
jika aku masih tersipu dalam ragu
dan jika waktu masih memaksaku memainkan opera
di panggung tak tentu

bukan sebuah ilusi saat kunang-kunangh itu datang
dan membacakan sejuta mantra,
aku pun tercengang dibuatnya

mungkinkah ku teruskan mimpiku yang tertunda?
jika semua warna pelangi masih saja sama

Sby, 2006


HANYALAH SENYUMMU

hanyalah senyummu
yang terpatri di antara bintang-bintang keagungan
dan, seonggok harapan tentang kita
yang akan ku persembahkan padamu
kini sudah tak berarti
bukankah kau yang menginginkan
kebahagiaan itu?
mungkin gunung berlian
atau pun lautan madu, itu untukmu.
tapi takdir terlanjur mengultimatum kita

hanyalah senyumu yang terpatri
di antara bintang-bintang keagungan

Sby, 2006


SANGGUPKAH KAU JADI SAKSI

Mungkinkah semua mata buta
atau mata hati yang buta,
kasih sayang menjadi pedang
cinta sebagai pengejar harta
Lihatlah !
seorang gadis mencongkel bola mata ibunya
sebagai perhiasan.

Di sudut lain, janda tua bercumbu mesra
dengan anjing peliharaannya,
begitu juga sekawanan manusia rakus
yang berebut bangkai dengan gagak-gagak hitam

Desiran angin menjelma menjadi
lengkingan tangis yang menyayat hati

Sanggupkah kau jadi saksi?
atau sekedar membutakan mata dan hati

Sby, 2005


SENJA

ketika sunyi merajai hati
kak henti-hentinya mereka lantunkan
tembang tanpa nada itu
dan di kala senja semakin buta
kau hanya berkata:
“ini bukan anyir darah sang penyair”

Ngawi, 2006


MEREKA YANG LIAR

Dinginnya angin malam telah membekukan
hati dan jiwa mereka
hingga raga mereka tertanam teramat dalam
di kebisingan kota dan segala hangar-bingarnya.
mereka telah membaur,
menyatu dalam ledakan musik heavy metal
dengan irama yang gila

Telinga-telinga itu tak lagi peka
mendengar teriakan hatinya sendiri
yang tersiksa, merintih, meraung-raung
dalam kegelapan.
mereka telah liar,
dan memburu kebahagiaan yang sesungguhnya
tak lagi terkejar

Sby, 2006


PERKENALAN

angin yang berhembus
gosok punggung rerumputan
bisikkan nama anak Adam-Hawa
masih awam untukku nama itu

sajak sederhana namun bermakna
terukir di secarik kertas tanpa noda
tulisan yang menggantikan lisan
awal dari perkenalan

mata terpejam mengarungi malam
terlukis pula di dinding kusam
sketsa bayangan
tentang sebuah perkenalan


Ngawi – Sby, 2006
TENTANG AKU, KAU DAN ANGKUHMU

dalam bingkai angkuhmu
tertoreh seribu satu sajak
tentang cinta dan kebahagiaan
dalam bingkai angkuhmu
terlukis seribu satu sketsa
tentang keindahan
juga angkuhmu
yang memaksaku
menciptakan seribu satu puisi
tentang kerinduan, kesedihan,
kebencian dan kematian’
tapi bukan untukmu
tahu apa mereka?
tentang dongeng yang tak kunjung usai
atau tenteng seribu satu kisah
yang tak pernah berlanjut

Sby, 2006


DENDAM

susah,
gundah,
resah,
gelisah,
lemah
melangkah
tengadah
dalam pasrah,
terlontarlah
sumpah-serapah
dari hati yang bernanah

Sby, 2006


RINDU 1

Hijau hamparan rumput, bak permadani
angin malu tiupkan nafasnya
dan bersembunyi
rindu yang berpacu dengan masa
terlahir karena cinta.
Cinta terlahir saat perbedaan telah sirna
hayalanku melayang untuk bertanya,
apakah makna hadirMu?
tersipu, terpaku
dalam waktu yang membuat ragu.
Gerimis di tangah malam
semakin membuatku karam
menggigil tanpa kehangatan

Ngawi – Sby, 2006


RINDU 2

Jauh rasa rindu
gapai asa labuhkan dahaga
cinta yang tak bertepi
didekap sepi hati

Tak berdaya hindari galaunya mimpi
terbawa gejolak larut dalam kabut

Dekatlah rindu
cerahi suramku
pasrah hiduo dan matiku
padaMu

Ngawi – Sby, 2006



PESAN UNTUK MANTAN KEKASIHKU

* :mra
Kau terlalu muda,
Kau terlalu lemah
Bukan itu jalanmu

Apakah kau menunggu sekujur tubuhmu
dilumuri ludah mereka?
Atau kau ingin tubuhmu ditelanjangi
dan digerogoti tikus-tikus itu.
Tak perlu kau bersorak-sorai
melihat mulutku berbusa
karena terlalu sering menasehatimu

Bukan itu jalanmu, dik!
Kau terlalu muda
Kau terlalu lemah
Kau terlalu perempuan.

Sby, 2006


LEBUR

pekat malam berkabut asap
bulan pucat pasi berpeluh darah
kamboja kuburan menebar aroma mayat

srigala buas dalam sangkar
meneteskan air mata
menatap sebongkah nisan
bertuliskan namamu

waktu mrapuhkan nisan
tak serapuh srigala itu
melebur terhempas angin
dan hantaman titik hujan

dalam penantian tiada arti
dalam leburnya dan bamgkitmu,
masih termangu bersama nisan
bertulisakan namamu

Ngawi, 2006


CERITA ANAK MANUSIA

Sorot mata muda menggoda
Dari sinilah awal cerita pendek
Cerita menarik di sudut kehidupan
Kehidupan seorang anak manusia
Sekilas tampak bahagia namun penuh siksa

Anak manusia terlena mata muda
Mata jalang, mata setia yang penuh dusta
Anak manusia tenggelam dalam Lumpur
Anak manusia menjerit sakit.
Suara hatinya teriak penuh berontak
Namun tak seorang mendengar
Hanya desiran ngin pilu berhembus
Mengiring anak manusia merangkak
Menuju jalan terang

Ngawi, 2006


KETIKA WAKTU MENITI JALAN TAK BERUJUNG

ketika waktu meniti jalan tak berujung
aku tenggelam dalam lamunan panjang
genggulas deretan cerita nyata
dengan sebongkah harapan
harapan jelang tidur
kesibukan yang mengasikkan,
kadang menyedihkan



persetan dengan rasa itu…
hanyalah jarring-jaring sialan
menjerat dalam kisah nyata.

ketika surya menyibak langit
aku terlepas dari tidur
menyeret seonggok mimpi,
mimpi penuh dusta

Ngawi, 2005


KIDUNG GELISAH

aku bak kelinci liar
tertatih-tatih
anak panah menembus perut kananku.
lepas harapanku
tersandar pada batu rapuh
penuh lumut durjana

hati ini sedang menangis, histeris
air mata mengucur membanjiri jalan angkuh.

sendiri aku memeluk hati
hati hamper mati
matipun tiada yang peduli
tiada yang peduli

Ngawi, 2005


CERITA AKU DAN KAWAN

melangkah dalam gelap
menyusur lorong yang pengap
lewati masa reinkarnasi
memungut untaian caci maki


masih terbayangkah kawan
tentang sebuah kemenangan
merajut waktu
yang tak berhenti berkayal,
mengusung cerita pada jaman purba

masih terbayangkah kawan
sering darah kita terkumpul
untuk patungan,
air mata kita larut
dalam canda tawa

walau kita tersesat,
terdampar di hutan lebat
kita pernah berdendang,
bersorak-sorai
dan teriak dengan lantang

walau kita terjungkal
saat melewati jurang terjal
selamanya kita tak kan berhenti berkayal,
selamanya kita tak kan lelah
mengusung cerita jaman purba

masih terbayangkah kawan
tentang sebuah pematang
yang pernah kita susun
dari tulang-belulang,
tentang sebait tembang
yang pernah kita ciptakan
saat hari beranjak petang

Sby, 2006